Di suatu desa terpencil di pinggiran kota, tinggallah seorang anak laki-laki bersama saudaanya. kehidupn keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah, sementara ibuna hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah, ia pergi ke pasar untuk berjualan asongan.
tampak di raut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia ampak kebinguangan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya. pada saat itu juga ia langsng berinisiatif untuk mencari si pemilik bungkusan tersebut. sambil mencari-cari si pemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu. lalu ibu berkata "dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang".
"uang untuk biaya rumah sakit, karena anak ibu baru saja mengalami kecelakaan korban tabrak lari. saa itu anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak. kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong. pagi ini ibu bau saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit. ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu".
lalu anak kecil tersebut berkata, "benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan, ini bu, milik ibu". setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang, sesampainya di rumah ia ceritakan semua kejadian yang bari saja dialami kepada ibunya.
kemudian ibunya berkata, "benar anakku, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walaupun itu di jalanan, karena barang itu bukan milik kita. ibu sagat bangga padamu nak, walaupun kita miskin, namun kamu kaya akan kebaikan dan kejujuran. untuk apa kita memiliki kekayaan yang berlimpah, sementara kita harus mengrbankan nyawa orang lain. kamu sungguh anak yang baik nak, ibu sangat bersyukur mempunyai anak sepertimu. hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuranmu, kamu harus jaga terus kejujuranmu, karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil".
("matamu adalah pelita hidupmu. jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. karena itu perhatikanlah supaya terang ang ada padamu jangan menjadi gelap. jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya. ")
pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar, trjatuh di pingir jalan. diambbilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bngkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.
tampak di raut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia ampak kebinguangan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya. pada saat itu juga ia langsng berinisiatif untuk mencari si pemilik bungkusan tersebut. sambil mencari-cari si pemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu. lalu ibu berkata "dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang".
"uang untuk biaya rumah sakit, karena anak ibu baru saja mengalami kecelakaan korban tabrak lari. saa itu anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak. kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong. pagi ini ibu bau saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit. ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu".
lalu anak kecil tersebut berkata, "benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan, ini bu, milik ibu". setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang, sesampainya di rumah ia ceritakan semua kejadian yang bari saja dialami kepada ibunya.
kemudian ibunya berkata, "benar anakku, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walaupun itu di jalanan, karena barang itu bukan milik kita. ibu sagat bangga padamu nak, walaupun kita miskin, namun kamu kaya akan kebaikan dan kejujuran. untuk apa kita memiliki kekayaan yang berlimpah, sementara kita harus mengrbankan nyawa orang lain. kamu sungguh anak yang baik nak, ibu sangat bersyukur mempunyai anak sepertimu. hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuranmu, kamu harus jaga terus kejujuranmu, karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil".
("matamu adalah pelita hidupmu. jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. karena itu perhatikanlah supaya terang ang ada padamu jangan menjadi gelap. jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya. ")